Make your own free website on Tripod.com

Al-Qur'an Menggugat Emansipasi

Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silatur-rahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. 4:1)

Siapa kira Ibunda Hawwa akan menjadi titik permasalahan? Hanya karena Rasulullah menyebut beliau berasal dari tulang rusuk Adam a.s. Setiap muslim dan muslimah memahami betapa tingginya nilai informasi hadits Rasulullah. Apalagi bila ia diriwayatkan oleh ‘As-Shahihain’ Bukhari dan Muslim.

Tapi, nyatanya, ada saja orang berkilah dengan informasi itu untuk memojokkan pandangan Islam terhadap wanita. Seakan-akan ingin mencari biang keladi masalah secara filosofis. Padahal hasilnya hanya pandangan yang dungu dan menampakkan kejahilan terhadap hakikat atau essensi Islam.

Lantas, bila bukan dari tulangrusuk Adam, wanita itu dari mana? Adakah yang dapat menjelaskannya selain dari Allah dan Rasul-Nya? Al-Quran menjelaskan bahwa :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)

Semua pembicaraan ini menyangkut penjelasan Allah tentang kejadian hidup manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Artinya, konteks pembicaraan diarahkan untuk menjelaskan asal-usul manusia yang satu. Sehingga, sikap kesukuan ( kebangsaan ) tidak dibenarkan mendominasi hidup seseorang.

Secara tidak langsung, surat Al-Hujarat: 13 di atas memang menyinggung pula tentang kedudukan wanita. Namun bukan berhubungan dengan hadits yang bersumber dari Rasulullah. Tinjauan ayat itu adalah kesertaan kaum Hawwa membangun manusia dan peradabannya di seluruh bangsa.
Dengan kata lain, Islam tidak pernah merendahkan derajat manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Islam hanya memiliki satu mata uang yang berlaku dalam membeda-bedakan manusia, yaitu takwa.
Alangkah anehnya bila ada orang yang ingin mengutak-ngatik pandangan Islam terhadap kaum wanita. Padahal, dua ayat diatas ( An-Nisa:1 dan Al-Hujurat: 13 ) justru ingin menunjukkan betapa terjalin kerjasama pria dan wanita dalam berperan membentuk kehidupan di muka bumi.

Juga tidak lucu jika ayat yang menyebutkan, "Dan daripadanya Allah menciptakan isterinya,"  kemudian dianggap sebagai merendahkan derajat wanita hanya karena Rasulullah menafsirkan kata "daripadanya" dengan tulang rusuk Adam. Lupakah kita, siapakah yang berbicara itu? Dia adalah utusan Allah, yang mendapat informasi akurat tentang segala tentang segala hal yang perlu disampaikan dari Yang Mengutusnya (Allah). Adapun tentang kedudukan wanita di samping pria, Rasulullah saw. menerangkan
lebih jauh dalam hadits, " Wanita adalah belahan separo (yang sama) dengan pria."(HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Mengembalikan Wanita Pada Fitrahnya.

Yang berbeda pada kedua jenis Makhluk Allah ini (pria dan wanita) adalah fungsi dan usahanya. Tentang perbedaan fungsi ini, Allah berfirman, "Dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak wanita (Ali Imran:36)

Siapapun tidak akan memungkiri bahwa keadaan fisik pria dan wanita itu jauh berbeda, bahkan berlawanan. Siapapun tahu bahwa wanita diciptakan Allah penuh kelembutan, halus, dan peka terhadap keadaan lingkungannya. Keadaan ini membuat mereka cocok untuk tugas yang halus dan lembut seperti membelai dan menyayangi anak....Sementara, laki-laki kokoh dan kuat sehingga lebih memungkinkan bekerja keras dan berat. Karena keadaan fisik ini pula, masing-masing lelaki dan wanita mempunyai fungsi dan peran khusus yang sama sekali berbeda dan tidak akan pernah sama.

"Dan (demi) penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya keadaan (dan usaha) kamu sungguh berbeda."(Al-Lail: 3-4)

Kendati berbeda, pria dan wanita saling membutuhkan sehingga harus bekerjasama secara benar dan sah, dijalin dengan hubungan kasih yang suci dan murni. Maka, Islam mengatur batas-batas hubungan pria dan wanita, pernikahan, dan rumah tangga dengan cukup detail. Karena, hal ini dipandang sebagai masalah asasi yang harus diselesaikan sejak dini.

Karena perbedaan fungsi pula, tidak mungkin pria dan wanita berada dalam pos yang sama. Bila ada yang seperti itu, jelas ini merupakan penyimpangan dari fitrah dan sunatullah. Lagi pula, perbedaan fungsi ini bukanlah untuk dipersoalkan. Karena hal itu merupakan bagian dari kekuasaan Allah yang mutlak. Di sinilah letak keagungan firman Allah,

" Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak daripada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka usahakan." (An-Nisa: 32)

Islam datang untuk mengarahkan potensi wanita sesuai dengan fungsi dan pembawaan fisiknya. Karena itu, datanglah syariat yang mengatur dimana wanita harus ditempatkan. Tugas kaum wanita di rumah, bagi Islam merupakan prinsip dan tugas vital yang tidak boleh ditinggalkan.Karena, di rumahlah perannya sungguh-sungguh dapat diharapkan dan terealisir dengan nyata. Hak dan kedudukan wanita diberikan Islam sesuai dengan fitrahnya. Rasulullah saw.  berpesan kepada para ayah, "Sama ratakan pemberianmu kepada anak-anakmu. Jika aku akan mengutamakan yang satu terhadap yang lain, tentu aku akan mengutamakan pemberian kepada yang perempuan. "(HR. At-Thabrani)

Kepada para suami (pria), Rasulullah saw. menyatakan, "Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang terbaik di antara kamu terhadap keluargaku. Orang yang memuliakan kaum wanita adalah orang yang mulia, dan orang yang menghina kaum wanita adalah orang yang tak tahu budi."(HR. Abu Asakir)

Kalau boleh memandang secara adil, kita bisa mengklaim bahwa ternyata kaum wanita di tengah-tengah masyarakat Islam itu mempunyai citra dan warna tersendiri. Sebagai gadis pingitan yang suci, mereka dijaga oleh kaum laki-laki karena dipandang salah satu bagian penting dari hidupnya. Sebagai isteri, mereka senantiasa mendapat perlindungan dari suaminya. Sebagai kakak atau adik, dihormati oleh saudara laki-lakinya.

Meskipun mereka termasuk keluarga kaya, namun sang suamilah yang harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan materi wanita. Karena itu, kaum ibu dalam keluarga Islami nampak cerah ceria jika dikelilingi putera-puterinya dan dikerumuni cucu-cicitnya. Sebab, dialah yang berhasil menjaga dan melindungi keberadaan mereka dengan siraman cinta dan belaian kasih yang mesra.

Ibu adalah penghasil generasi. Bila ada seribu ulama Islam, maka sesungguhnya dibelakang itu mesti ada seribu wanita yang muliakan oleh ulama tersebut. Karena ada sebuah sabda Rasulullah, berkenaan dengan hal ini, yaitu :"Seorang sahabat bertanya,"Ya Rasulullah, siapakah yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi saw. menjawab, "Ibumu.....ibumu....ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu."(Mutaffak Alaih)

Dari itu, Islam menuntut kaum wanita untuk menghabiskan sebagian besar waktunya dalam membina rumah tangga dan tidak diperkenankan mengelak apalagi meninggalkan tugas yang prinsip ini. Terkecuali dalam tuntutan situasi dan kondisi yang benar-benar mendesak dan sangat terpaksa. Sedangkan laki-laki menurut prinsip dasarnya mempunyai tugas dan tanggung jawab di luar rumah. Jika ternyata kedua kutub tugas ini menjadi rancu, maka yang bakal terjadi adalah api pergolakan yang memercik di rumah tangga, terus merambat pada tatanan kehidupan bermasyarakat, dan pada akhirnya akan menggerogoti seluruh sistem kehidupan sosial yang lebih luas.

Barat Merendahkan dan Melecehkan Wanita

Posisi Kaum Wanita di tengah-tengah masyarakat kita, kaum muslimin, tidak pernah menjadi impian wanita-wanita Barat, baik itu dalam kapasitasnya sebagai anak, isteri, maupun berstatus sebagai ibu. Mata mereka telah disilaukan oleh materi sehingga tidak mampu lagi melihat kedalam fitrah dan kesucian hatinya sendiri. Bila kita lihat secara objektif, ternyata wanita-wanita Barat itu sejak masih remaja memang dipersiapkan bahkan dihidangkan sebagai makanan empuk pria hidung belang. Atau, direkayasa sebagai isteri yang senantiasa dituntut untuk bekerja keras lagi berta, banting tulang dan tidak kerasan di rumah gara-gara ingin membuktikan kelebihannya di hadapan sang suami atau ingin ikut andil dalam meringankan bebannya.

Jika tidak demikian, mereka akan merasa kehilangan jati diri dan identitas, bahkan tidak akan berharga lagi di mata masyarakat. Wanita yang karena terpaksa masih tetap mempertahankan dan konsisten dengan nilai-nilai keibuan akan dikucilkan di panti-panti jompo, dicampakkan dan dititipkan oleh putera-puterinya di lembaga-lembaga sosial. Hanya sedikit jumlah wanita yang sadar dan menjerit akibat kesengsaraan dan penderitaan eksploitasi habis-habisan kaum pria. Ungkapan Lady first yang populer itu sebenarnya hanya Lip service yang kenyataannya telah meluluhlatakkan fitrah kaum wanita. Wanita Barat adalah pajangan yang dihargai dari kemolekan dan kecantikan, bukan oleh prestasi dan partisipasi mereka. Pelecehan seksual yang mereka terima di kantor-kantor atau di pabrik-pabrik menunjukkan hal ini. Demikian juga peran mereka sebagai alat-alat promosi melalui film, televisi, radio, majalah, koran, dan media massa lainnya. Wanita barat telah sesuai dengan gambaran junjungan kita " Wanita adalah alat perangkap ( penjaring syetan ) " ( HR. As-Syihab )

 Kita lihat sabda Rosulullah saw. : "Tiada aku meninggalkan suatu fitnah sesudahku yang lebih berbahaya terhadap kaum pria daripada godaan Wanita (HR. Al-Bukhari dan Muslim).*****

Sebenarnya wanita-wanita barat itu sangat tertindas dan hina dina. Seandainya mereka menyadari status dan hakekat jati dirinya , sudah pasti mereka akan memberontak dan melancarkan berbagai protes terhadap kaum lelaki yang telah merampas hak-hak asasi mereka.

Sumber : Ummi 1996